Slide satu
Lorem ipsum dolor sit amet, conscur adisng elit, sed do eiusmod tempor iniunt ut labore et dolore mana aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exetation ullco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo coequat. Duis aute irure dolor
Slide dua
Lorem ipsum dolor sit amet, conscur adisng elit, sed do eiusmod tempor iniunt ut labore et dolore mana aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exetation ullco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo coequat. Duis aute irure dolor
slide tiga
Lorem ipsum dolor sit amet, conscur adisng elit, sed do eiusmod tempor iniunt ut labore et dolore mana aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exetation ullco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo coequat. Duis aute irure dolor
slide empat
Lorem ipsum dolor sit amet, conscur adisng elit, sed do eiusmod tempor iniunt ut labore et dolore mana aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exetation ullco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo coequat. Duis aute irure dolor
kepala suku arab itu digigit seekor ular berbisa dan orang-orang dari suku itu berusaha mengobatinya tetapi sia-sia. mereka berkata (satu sama lain), "tidak ada yang dapat mengobatinya, pergilah kamu menemui orang-orang yang tinggal di daerah ini malam ini, mungkin mereka memiliki obat penawar racun".
beberapa orang menemui para sahabat Nabi Muhammad Saw dan berkata, " wahai kafilah, pemimpin kami digigit ular berbisa. kami telah berusaha mengobatinya semampu kami, tetapi sia-sia. apakah kalian memiliki obatnya?" salah seorang dari sahabat berkata, "ya, demi Allah. aku akan membca ruqyah untuknya, tetapi karena kami telah ditolak menjadi tamu kalian. aku tidak dapat membacakan ruqyah kecuali apabila kalian memberi kami upah untuk itu". mereka setuju membayar dengan sejumlah biri-biri.
Setengah dari mereka mengkhatamkannya sekali dalam sepuluh malam dan setengahnya mengkhatamkan sekali dalam setiap delapan malam. Banyak dari mereka mengkhatamkan dalam setiap tujuh malam. setengahnya mengkhatamkannya dalam setiap enam malam. Dsan ada pula dari mereka mengkhatamkannya dalam setiap lima malam.
Sedangkan setengah dari mereka ada yang mengkhatamkannya dalam setiap empat malam, setiap tiga malam atau setiap dua malam. bahkan setengah dari mereka mengkhatamkannya sekali dalam sehari semalam. Di antara mereka ada yang mengkhatamkannya dua kali dalam sehari semalam dan ada yeng tiga kali. Bahkan setengah dari mereka mengkhatamkkannya delapan kali, yaitu empat kali pada waktu malam dan empat kali pada waktu siang.
Diantara orang-orang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari semalam ialah Usman bin Affan ra Tamim Ad-Daariy, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i dan lainnya.
Diantara orang-orang yang mengkhatamkan tiga kali dalam sehari semalam ialah Sali bin umar ra Qadhi Mesir pada masa pemerintahan Mu’awiyyah. Diriwayatkan bahawa Abu Bakr bin Abu Dawud ra mengkhatamkan Al-Qur’an tiga kali dalam semalam. Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Kindi dalam kitabnya berkenaan dengan Qadhi Mesir bahawa dia mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali dalam semalam. Asy-Syeikh Ash-Shahih Abu Abdurahman As-Salami ra berkata:
“Aku mendengar Asy-Syeikh Abu Usman Al-Maghribi berkata, ‘Ibnu Khatib ra mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali pada waktu siang dan empat kali pada waktu malam.” Ini adalah jumlah terbanyak yang saya ketahui dalam sehari semalam. Diriwayatkan oleh As-Sayyid, Ahmad Ad-Dauraqi dengan isnadnya dari Manshur bin Zaadzan ra, seorang tabi’in ahli ibadah bahawa dia mengkhatamkan Al-Qur’an di antara waktu Zuhur dan Ashar, kemudian mengkhatamkannya pula antara maghrib dan Isyak pada bulan Ramadhan dua kali. Mereka mengakhirkan shalat Isyak pada bulan Ramadhan hingga berlalu seperempat malam.
Diriwayatkan dari Manshur, katanya: “Ali Al-Azadi mengkhatamkan Al-Qur’an di antara Maghrib dan Isyak setiap malam pada bulan Ramadhan.” Diriwayatkan dari Ibrahim bin Said, katanya: “Ayahku duduk sambil melilitkan serbannya pada badan dan kedua kakinya dan tidak melepaskannya hingga selesai mengkhatamkan Al-Qur’an.” Sedangkan orang yang mengkhatamkannya dalam satu rakaat banyak sekali hingga tidak terhitung jumlahnya. Diantara orang-orang yang terdahulu ialah Usman bin Affan, Tamim Ad-Daariy dan Said bin Jubair ra yang mengkhatamkan dalam setiap rakaat di Kaabah. Manakala yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu, di antara mereka adalah Usman bin Affan r.a: Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Thabit dan Ubai bin Ka’ab ra Dan dari tabi in antara lain ialah Abdurrahman bin Zaid, Alqamah dan Ibrahim rahimahullah. Hal itu berbeda menurut perbedaan orang-orangnya.
Barangsiapa yang ingin merenungkan dan mempelajari dengan cermat, hendaklah dia membatasi diri pada kadar yang menimbulkan pemahaman yang sempurna atas apa yang dibacanya. Demikian jugalah siapa yang sibuk menyiarkan ilmu atau tugas-tugas agama lainnya dan kemaslahatan kaum muslimin yang bersifat umum, hendaklah dia membatasi pada kadar tertentu sehingga tidak mengganggu apa yang wajib dilakukannya. Jika kita belum termasuk ke peringkat yang di capai orang-orang yang disebut ini, maka bolehlah kita memperbanyak membaca Al-Qur’an sedapat mungkin tanpa menimbulakan kejemuan dan tidak terlalu cepat membacanya.
Sejumlah ulama terdahulu tidak suka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam. Mereka bertolak dari hadits sahih yang diriwayatkan Abdullah bin Amrin bin Al-Ash ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersada:“Tidaklah orang yang membaca (mengkhatamkan) Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari.” (Riwayat Adu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan lainnya) Tirmidzi berkata, ini hadits hasan sahih. Wallahua’lam.
Sementara waktu permulaan dan pengkhataman bagi orang yang mengkhatamka Al-Qur’an dalam seminggu, maka telah diriwayatkan oleh Abu Dawud bahawa Usman bin Affan ra memulai membaca Al-Qur’an pada
malam jumat dam mengkhatamkannya pada malam Khamis.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata dalam Al-Ihya: “Cara yang lebih baik ialah mengkhatamkan sekali pada waktu malam dan sekali pada waktu siang dan menjadikan pengkhataman siang pada hari Isnin dalam dua rakaat fajar atau sesudahnya serta menjadikan pengkhataman malam pada malam jumaat dalam dua rakaat Maghrib atau sesudahnya supaya awal siangnya berhadapan dengan akhirnya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dawud dari Umar bin Murrah At-Tabi’I, katanya: “Mereka suka mengkhatamkan Al-Qur’an dari awal malam atau dari awal siang.”
Diriwayatkan dari Thalhah bin Musharif seorang At-Tabi’I Al-Jalil, katanya: “Barangsiapa mengkhatamkan Al-Qur’an pada waktu manapun pada waktu siang, maka para malaikat mendoakan baginya sampai petang.Dan siapa yang mengkhatam-kan Al-Qur’an pada waktu manapun dari waktu malam, maka para malaikat mendoakan baginya sampai pagi.” Diriwayatkan juga dari Mujahid hadits seperti itu.
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Msunadnya dengan isnadnya dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra katanya: “Jika pengkhataman Al-Qur’an bertetapan dengan awal malam, maka para malaikat mendoakan baginya sampai pagi. Dan apabila pengkhatamannya bertetapan dengan akhir malam, maka para malaikat mendoakan baginya sampai petang.” Ad-Darimi berkata, ini hadits hasan dari Sa’ad.
Diriwayatkan dari Habib Abi Thabit seorang tabi’in bahawa dia mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum rukuk. Ibnu Abi Dawud berkata, “Demikianlah dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal rahimahullah.”
Sumber : Terjamah At Tibyan ,Imam Nawawi.

Hendaklah seorang penghafal Al-Qur’an lebih banyak membaca Al-Qur’an pada waktu malam dan dalam shalat malam. Allah berfirman:
“…diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah s.w.t pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah s.w.t dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang sholeh. (QS Ali Imran: 113-114)
Diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Rasulullah s.a.w bahawa baginda bersabda:“Sebaik-baik lelaki ialah Abdullah, seandainya di shalat pada waktu malam.”
Dalam hadits lainnya dalam kitab Shahih disebutkan bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si fulan; dia kerjakan shalat malam, kemudian meninggalkannya.”
Diriwayatkan oleh Thabrani dan lainnya dari Sahl bin Sa’ad ra dari Rasulullah s.a.w baginda bersabda:
“Kemulian orang mukmin adalah shalat di malam hari.”
Banyak hadits dan athar diriwayatkan berkenaan dengan hal ini. Diriwayatkan dari Abu Ahwash Al-Jusyamiy, katanya: “Ada orang mendatangi sebuah kemah pada waktu malam. Dia mendengar suara dari penghuninya seperti dengungan lebah. Katanya: “Kenapa mereka merasa aman dari apa yang ditakutkan oleh orang lain?”
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’I bahawa dia berkata: “Bacalah Al-Qur’an pada waktu malam, walaupun lamanya seperti memerah susu kambing.” Diriwayatkan dari Yazid Ar-Raqasyi, katanya: “Jika aku tidur, kemudian aku terbangun, kemudian aku tidur, maka kedua mataku tidak dapat tidur.” Saya katakan: “Sesungguhnya shalat malam dan membaca Al-Qur’an ketika itu amat diutamakan kerana ia lebih menyatukan hati dan lebih jauh dari hal-hal yang menyibukkan dan melalaikan. Di samping itu ia lebih mampu menjaga dari riya’ dan hal-hal lain yang sia-sia. Dan ia menjadi sebab timbulnya kebaikan-kebaikan pada waktu malam.” Sesungguhnya Isra’ Rasulullah s.a.w terjadi pada waktu malam. disebut di dalam hadits: “Tuhanmu turun setiap malam ke langit dunia ketika berlalu sepertiga malam yang awal, kemudian berkata: “Aku adalah Raja (2x), siapa yang memohon daripada-Ku maka Aku perkenankan.”
Diriwayatkan dalam hadits bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Pada waktu malam ada suatu saat di mana Allah s.w.t mengabulkan doa setiap malam.”
Diriwayatkan oleh penulis Bahjatul Asraar dengan isnadnya dari Sulaiman Al-Anmathi, katanya: “Aku pernah melihat Ali bin Abu Thalib ra dalam mimpi berkata: “Kalau bukan kerana orang yang shalat di malam hari dan lainnya puasa pada waktu siang. Niscaya bumimu telah digoncangkan dari bawahmu kerana kamu kaum yang buruk dan tidak taat.”Ingatlah bahawa keutamaan shalat malam dan membaca Al-Qur’an ketika itu akan menghasilkan sesuatu dan tercapainya yang sedikit dan yang banyak. Semakin banyak hal itu dilakukan, semakin baik, kecuali jika meliputi seluruh malam kerana yang demikian itu makruh dan boleh membahayakan dirinya.
Hal yang menunjukkan tercapainya keutamaan itu dengan amalan sedikit ialah hadits Abdullah bin Amrin Ibnu Al-Ash ra, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Barangsiapa shalat malam dan membaca sepuluh ayat, dia tidak ditulis (dimasukkan) kedalam golongan orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat dengan membaca seratus ayat, dia ditulis dalam golongan orang yang taat. Dan barangsiapa yang shalat membaca seribu ayat, dia ditulis ke dalam golongan orang yang berlaku adil.” (Riwayat Abu Dawud dan lainnya)
Ath-Tha’labi menceritakan dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Barangsiapa shalat dua rakaat pada waktu malam, lalu dia bermalam dalam keadaan sujud dan berdiri menghadap Allah s.w.t.”
at tibyan,imam Nawawi.
Meletakkan Al Quran dengan bagian Al fatihah di atas.
Jangan membawa Al Quran ke negeri musuh Islam. Ditakutkan Al Quran akan di rusak oleh mereka. (Bukhari,Muslim,Abu Dawud,Ibnu Majah)
Jangan berdebat dengan Al Quran. (Baihaqi, Ibnu Majah, Hakim) *Dikhawatirkan ,argumen Al Quran yang diajukan , ditolak oleh lawan bicara kita, berarti secara tidak langsung ia sudah menolak Al Quran. Dan berdebat itu sendiri sangat tidak disukai oleh agama. Bahkan dianjurkan menghindari perdebatan walaupun merasa benar.
Seseorang yang sudah menghafal Al Quran atau sebagian ayat –ayat nya,janganlah mengatakan , “Saya lupa ayat ini....” tetapi katakanlah, “Saya dilupakan oleh Allah ayat ini...” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
Orang – orang yang tidak boleh memegang Al Quran, ialah:
o Orang junub
o Orang Haid
o Orang nifas
o Orang kafir
Jangan menyelonjorkan kaki ke Al Quran atau menyentuhnya dengan kaki.(Abu Nasir)
Al Quran tidak boleh dipakai untuk bantal atau alas.(Thabrani, Baihaqi)
Al Quran tidak boleh dilangkahi.(Ibnu Hajar Asqalani)
Umar RA. Senang jika melihat orang yang membaca Al Quran memakai baju putih.(Malik)
Ketika khatam dari tilawah Al Quran disunahkan agar :
o Menperbanyak takbir dan tahmid.
o Mengumpulkan keluarga dan doa bersama-sama. (Ibnu Hajar)
……………………………………………………………………………………………
Maka ia bertanya kepada ayahnya,”Ayah ,siapa yang mendapat perintah dari Allah seperti ini?” Ayahnya menjawab,”yang di maksudkan adalah nabi Muhammad.” Ia bertanya lagi,”Wahai Ayah ,mengapa ayah tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi .” Ayahnya menjawab,” Sesungguhnya shalat malam dikhususkan bagi Nabi dan di wajibkan bagi beliau,bukan kepada umatnya.” Ia pun diam. Namun ketika menghafal ayat selajutnya,yaitu firman Allah Surat Al Muzammil Ayat :20.
……………………………………………………………………………………………
Ia bertanya lagi,”Wahai Ayah ,aku mendengar bahwa ada segolongan manusia yang mengerjakan shalat malam.Lalu siapakah golongan tersebut?” Ayahnya menjawab,”Wahai anakku,mereka itu para sahabat”.
Ia berkata.”Wahai ayah ,adakah kebaikan dalam meninggalkan apa yang di kerjakan oleh Nabi dan para sahabat beliau?” Ayahnya berkata,Engkau benar ,Wahai anakku.”
Sesudah peristiwa itu ayahnya selalu bangun malam untuk mengerjakan shalat.
Pada suatu malam Abu Yazid terbangun ,dan ternyata ayahnya sedang mengerjakan shalat. Ia bertanya,” Wahai ayah,ajarkan kepadaku bagaimana cara bersuci (wudhu) dan mengerjakan shalat bersamamu!” Ayahnya berkata,”Wahai anakku ,tidurlah,karena sesungguhnya engkau masih terlalu kecil !”
Ia berkata,” Wahai ayah,jika pada hari ketika manusia di hadirkan untuk diperlihatkan amal perbuatn mereka aku katakana kepada Rabbku,’Sesungguhnya aku telah bertanya kepada ayahku bagaimana cara aku berwudhu dan mengerjakan shalat bersamamu,namun ayah enggan dan justru mengatakan kepada ku ,”Tidurlah ,karena engkau masih terlalu kecil’. Apakah ayah suka bila hal ini terjadi?”
Ayahnya kemudian berkata,”Tentu tidak!” Akhirnya ia pun mengerjakan shalat malam bersama ayahnya. (Anba’ Nujaba’ Al Abna’,150)
kepala suku arab itu digigit seekor ular berbisa dan orang-orang dari suku itu berusaha mengobatinya tetapi sia-sia. mereka berkata (satu sama lain), "tidak ada yang dapat mengobatinya, pergilah kamu menemui orang-orang yang tinggal di daerah ini malam ini, mungkin mereka memiliki obat penawar racun".
beberapa orang menemui para sahabat Nabi Muhammad Saw dan berkata, " wahai kafilah, pemimpin kami digigit ular berbisa. kami telah berusaha mengobatinya semampu kami, tetapi sia-sia. apakah kalian memiliki obatnya?" salah seorang dari sahabat berkata, "ya, demi Allah. aku akan membca ruqyah untuknya, tetapi karena kami telah ditolak menjadi tamu kalian. aku tidak dapat membacakan ruqyah kecuali apabila kalian memberi kami upah untuk itu". mereka setuju membayar dengan sejumlah biri-biri.
kemudian salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw pergi (ke tempat mereka) dan membaca : Alhamdulillah Rabbal alamin, dan meniup tubuh si kepala suku yang seketika tampak sehat kembali, seakan-akan telah terbebas dari semacam ikatan, lalu bangun dan mulai berjalan, tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan. mereka pun membayar dengan upah yang telah disepakati sebelumnya.
sebagian dari mereka (para sahabat Nabi Muhammad Saw) menyarankan agar mereka membagi rata upah itu. tetapi salah seorang dari mereka menolak dan berkata, "jangan dahulu dibagikan sebelum kita bertemu dengan Rasulullah Saw untuk menceritakan apa yang telah kita alami, dan menunggu perintahnya".
maka mereka pun pergi menemui Rasulullah Saw. setelah mendengar seluruh cerita mereka, Rasulullah Saw bersabda, "bagaimana kamu tahu surah Al Fatihah dapat dibacakan sebagai ruqyah?" kemudian Nabi Muhammad Saw menambahkan, "apa yang telah kalian lakukan benar. bagi rata upah kalian. dan berilah aku bagian". sambil mengatakan hal itu Rasulullah Saw tersenyum jenaka.
sumber :http://hadits-albukhari.blogspot.com
Dikatakan dalam hadis sahih, diriwayatkan oleh Mansur bin Yazid al Maliki, ia berkata, "Suatu ketika Rasul saw. ketinggalan satu ayat dalam salatnya. Lalu berkatalah seseorang kepada beliau, hai Rasulullah ayat ini seharusnya ini. Rasul menjawab, tidakkah kamu mengingatkannya" (H. R. Abu Daud Abdullah bin Ahmad)
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa suatu ketika Nabi ragu-ragu dengan bacaannya dalam salat. Usai salat beliau bertemu dengan Ubai bin Kaab dan bertanya kepadanya, Apakah kamu salat bersamaku, ia, jawabnya. Apa yang menghalangimu mengingatkan" (Diriwayatkan oleh Abu Daud)
Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Al Haris Al A'war dari Ali , bahwa Rasul saw. berkata kepada Ali, "janganlah kamu mengingatkan Imam di waktu salat". Hadis ini kedudukannya sangat lemah, tidak mampu mengalahkan kekuatan hadis-hadis yang tersebut di atas. Bahkan banyak ahli hadis mengatakan bahwa Haris Al-A'war seorang pembohong.
1.Surah Al Fatihah 7 ayat
2.Surah Al-'Alaq, 19 ayat.
3.Surah Al-Qalam,52 ayat (selain ayat 17-33 dan 48-50 yang diturunkan di madinah).
4.Surah Al-Muzammil 20 ayat (selain ayat 10-11 dan ayat 20 yang di turunkan di madinah).
5.Surah Al-Muddatstsir, 56 ayat.
6.Surah Al-Lahab, 5 ayat.
7.Surah At-Takwir,29 ayat.
8.Surah Al-A'laa, 19 ayat.
9.Surah Al-Lail, 21 ayat.
10.Surah Al-Fajr, 30 ayat.
11.Surah Adh-Dhuhaa, 11 ayat.
12.Surah Al-Insyirah, 8 ayat.
13.Surah Al-'Ashr, 3 ayat.
14.Surah Al-'Aadiyat, 11 ayat.
15.Surah Al-Kautsar, 3 ayat.
16.Surah At-Takaatsur, 8 ayat.
17.Surah Al-Maa'uun, 7 ayat.
18.Surah Al-Kaafiruun, 6 ayat.
19.Surah Al-Fiil, 5 ayat.
20.Surah Al-Falaq, 5 ayat.
21.Surah An-Naas, 6 ayat.
22.Surah Al-Ikhlas, 4 ayat.
23.Surah An-Najm, 62 ayat (selain ayat 32 yang di turunkan di madinah)
24.Surah 'Abasa, 42 ayat.
25.Surah Al-Qadar, 5 ayat.
26.Surah Asy-Syams, 16 ayat.
27.Surah Al-Buruuj, 22 ayat.
28.Surah At-Tiin, 8 ayat.
29.Surah Quraisy, 4 ayat.
30.Surah Al-Qaari'ah, 10 ayat.
31.Surah Al-Qiyaamah, 40 ayat.
32.Surah Al-Humazah, 9 ayat.
33.Surah Al-Mursalaat, 50 ayat.
34.Surah Qaaf, 45 ayat.
35.Surah Al-Balad, 20 ayat.
36.Surah At-Thaariq, 17 ayat.
37.Surah Al-Qamar, 55 ayat (selain ayat 44-46 yang di turunkan di Madinah)
38.Surah Shaad, 88 ayat.
39.Surah Al-A'raaf 206 ayat ( selain ayat 163-170 yang diturunkan di Madinah)
40.Surah Jin, 28 ayat.
41.Surah Yaasiin, 83 ayat ( selain ayat 45 yang diturunkan di Madinah )
42.Surah Al-Furqan, 77 ayat ( selain ayat 68-70 yang diturunkan di Madinah )
43.Surah Faathir, 45 ayat.
44.Surah Maryam,99 ayat ( selain ayat 58 dan 71 yang diturunkan di Madinah ) 45.Surah Thaahaa, 135 ayat ( selain ayat 30-31 yang diturunkan di Madinah )
46.Surah Al-Waqi'ah, 96 ayat ( selain ayat 81-82 yang diturunkan di Madinah )
47.Surah Asy-Syu'araa, 227 ayat ( selain ayat 197 dan ayat 221-227 yang diturunkan di Madinah )
48.Surah An-Naml, 93 ayat.
49.Surah Al-Qashash,88 ayat ( selain ayat 52-55 dan ayat 85 yang diturunkan di Madinah )
50.Surah Al-Israa', 111 ayat ( selain ayat 26 dan 32-33 dan 73-80 yang diturunkan di Madinah )
51.Surah Yunus, 109 ayat ( selain ayat 40 dan 94-96 yang diturunkan di Madinah )
52.Surah Huud, 123 ayat ( selain ayat 12 dan 17 dan 114 yang diturunkan di Madinah)
53.Surah Yusuf, 111 ayat ( selain ayat 1-3 dan 7 yang diturunkan di Madinah)
54.Surah Al-Hijr, 99 ayat ( selain ayat 87 yang diturunkan di Madinah)
55.Surah Al-An'aam, 165 ayat ( selain ayat 20,23,91,93,114,141 dan 151-153 yang diturunkan di Madinah)
56.Surah As-Shafaat,182 ayat.
57.Surah Luqman, 34 ayat ( selain ayat 27-29 yang diturunkan di Madinah)
58.Surah Saba', 54 ayat ( selain ayat 6 yang diturunkan di Madinah)
59.Surah Az-Zumar, 75 ayat ( selain ayat 52-54 yang diturunkan di Madinah)
60.Surah Ghafir (al-mu'min),85 ayat ( selain ayat 56-57 yang diturunkan di Madinah)
61.Surah Fushshilat, 54 ayat.
62.Surah As-Syuura, 53 ayat ( selain ayat 23-25 dan 27 yang diturunkan di Madinah)
63.Surah Az-Zukhruf, 89 ayat ( selain ayat 54 yang diturunkan di Madinah)
64.Surah Ad-Dukhaan, 59 ayat.
65.Surah Al-Jaatsiyah, 37 ayat ( selain ayat 4 yang diturunkan di Madinah)
66.Surah Al-Ahqaaf, 35 ayat ( selain ayat 10,15 dan 35 yang diturunkan di Madinah)
67.Surah Adz-Dzaariyaat, 60 ayat.
68.Surah Al-Ghaasyiyah, 26 ayat.
69.Surah Al-Kahfi, 110 ayat ( selain ayat 28 dan 83 dan 101 yang diturunkan di Madinah)
70.Surah An-Nahl,128 ayat ( selain ayat 26-28 yang diturunkan di Madinah)
71.Surah Nuh,28 ayat.
72.Surah Ibrahim, 52 ayat ( selain ayat 28-29 yang diturunkan di Madinah)
73.Surah Al-Anbiyaa', 112 ayat.
74.Surah Al-Mu'minuun, 118 ayat.
75.Surah As-Sajdah, 30 ayat ( selain ayat 16-20 yang diturunkan di Madinah)
76.Surah Ath-Thuur, 49 ayat.
77.Surah Al-Mulk, 30 ayat.
78.Surah Al-Haaqqah, 52 ayat.
79.Surah Al-Ma'aarij, 44 ayat.
80.Surah An-Naba', 40 ayat.
81.Surah An-Naaziaat, 46 ayat.
82.Surah Al-Infithaar, 19 ayat.
83.Surah Al-Insyiqaaq, 25 ayat.
84.Surah Ar-Ruum, 60 ayat ( selain ayat 17 yang diturunkan di Madinah)
85.Surah Al-'Angkabuut, 69 ayat ( selain ayat 1-11 yang diturunkan di Madinah)
86.Surah Al-Muthaffifiin, 36 ayat.
Demikian tertibnya surah-surah yang di turunkan di Mekah.Selain itu,ada beberapa ayat yang di turunkan di Mekah,tetapi sekarang termaktub dalam surah-surah yang diturunkan di Madinah,misalnya ayat 30-36 yang termaktub dalam surah al -anfal,ayat 112 yang termaktub dalam surah at-Taubah.Ayat tersebut turunnya ketika Nabi masih di Mekah,tetapi termaktub dalam surah-surah yang di turunkan di Madinah.
=[Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw,K.H.Moenawar Chalil,jilid 2,hal 111-113 ]=
Ada tiga tips yang bisa Anda ikuti agar tadarus Alquran bisa tercapai sebelum Ramadan berakhir seperti VIVAnews kutip dari The Collar Corner.
1. Sesuaikan dengan jumlah juz Al Quran
Al-Qur’an terdiri dari 30 juz dengan panjang masing-masing juz yang bervariasi. Ada beberapa juz yang memuat beberapa surah namun seperti juz ke-1 yang terdiri dari dua surah, yaitu surah Al Fatihah dan Surah Al Baqarah hingga ayat 141.
Bila memilih tadarus berdasarkan juz, tamatkan satu juz dalam satu waktu misalnya setelah salat tarawih atau setelah salat subuh. Targetkan untuk menghabiskan satu juz setiap hari.
2. Sesuai dengan lembar juz dalam Al Quran
Jika terasa agak sulit menamatkan Alquran satu juz sehari, pertimbangkan untuk membagi jumlah lembar al Quran. Tujuannya agar Anda mengetahui berapa lembar yang harus Anda baca setiap hari agar hingga akhir Ramadan Anda telah khatam.
Rata-rata, satu juz terdiri dari 7-8 lembar atau ada yang lebih banyak. Anda bisa membacanya setiap selesai salat wajib. Jika satu juz terdapat 10 halaman, bacalah dua lembar masing-masing setelah salat wajib. Ini tentu terasa lebih ringan.
3. Tips dengan jumlah lembar Al-Qur’an
Jumlah lembar di tiap Al-Qur’an bisa berbeda-beda tergantung ukuran Al Quran. Sebagai contoh ada Al-Qur’an berjumlah 604 lebar. Agar bisa khatam dalam 29 hari misalnya, dalam sehari harus menghabiskan 21 lembar. Dari situ, Anda bisa membaca Alquran di waktu-waktu yang bervariasi dan waktu senggang.

Al-Mughirah berkata, "Aku keluar pada suatu malam setelah manusia sudah tidur pulas. Ketika aku melewati Malik bin Anas RA, ternyata aku berdiri bersamanya untuk melaksa-nakan shalat. Ketika selesai dari membaca al-Fatihah, ia mulai membaca,
'Bermegah-megahan telah melalaikan kamu' (At- Takatsur: 1)
hingga sampai ayat,
'Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenik-matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu),' (At-Taka-tsur: 8)
Maka ia menangis dalam waktu yang lama. Ia terus membacanya berulang-ulang dan menangis. Apa yang aku dengar dan aku lihat darinya telah melupakanku dari keperluanku yang karena-nya aku keluar. Aku masih tetap berdiri, sedangkan dia terus membacanya berulang-ulang sambil menangis hingga terbit fajar. Ketika ia mengetahui sudah fajar, maka ia rukuk. Kemudian aku pulang ke rumah, lalu berwudhu, lalu berangkat kembali ke masjid. Ternyata ia sedang berada di majelisnya dan orang-orang berada di sekitarnya. Pada pagi harinya, aku memandangnya. Ternyata aku melihat wajahnya telah diliputi cahaya dan ke-indahan."
Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa asy-Syafi'i suatu hari membaca firmanNya,
"Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadapKu. Kece-lakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang men-dustakan." (Al- Mursalat: 38-40).
Maka ia terus menangis sampai pingsan; Semoga Allah merahmatinya.
Hammad bin Salamah berkata, "Tsabit membaca,
'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna,' (Al- Kahfi: 37)
pada shalat malam sambil menangis dan mengulang- ulangnya."
1. Ibnu al-Atsir, Manaqib asy-Syafi'i, hal. 108.
2.Siyar A'lam an-Nubala', 5/ 224
Ketika zaman semakin berputar mengikuti arus syahwat manusia, selayaknya lah kita sebagai orang Islam (mungkin) harus mulai kembali menanamkan azam dan niat, tekad dan keinginan untuk mulai menghafal Al-Quran.
Dan untuk memudahkan menghafalnya, ada beberapa teknik dan persiapan yang khusus yang bisa dipakai. Beberapa di antaranya:
1. lkhlaskan niat dan bersabar
2. Jangan lupa baca basmillah dulu
3. Berdoa kepada Allah swt
4. Bersih dari hadas kecil dan besar
5. Sebaiknya menghadap kiblat
6. Memakai pakaian putih yang bersih dan menutup aurat
7. Jangan banyak berkata dan ketawa ketika membaca dan menghafal
8. Memberikan perhatian sepenuhnya
9. Jangan membaca ketika mengantuk atau menguap
10. Berhenti membaca ketika ingin buang angin
11. Salat dua rakaat sebelum memulai
SEBELUM MENGHAFAL
1. Mempunyai azam dan minat untuk menghafal
2. Memilih waktu yang sesuai untuk menghafal
3. Memilih tempat yang sesuai untuk menghafal
4. Berada dalam keadaan tenang
5. Tenangkan pikiran sebelum menghafal
6. Pilih sebuah jenis mushaf dan jangan ubah dengan jenis mushaf lain
7. Beristighfar, membaca selawat dan doa sebelum mulai menghafal
TEKNIK-TEKNIK MENGHAFAL
A. Teknik "Chunking" (potongan-potongan)
Mengelompokan ayat yang panjang dalam beberapa bagian yang memang sesuai mengikuti arahan guru atawa ustadz, jika belajar bersama mereka
Mengelompokan awal surat pada beberapa bagian (2 atau 3 bagian) yang sesuai
Mengelompokan surat dalam beberapa bagian, contohnya mengikut pertukaran cerita
Mengelompokan juz kepada beberapa bagian mengikut surah, hizib, rubu', cerita dan sebagainya
Mengelompokan kelompok surah, setiap 10 juz dan sebagainya
B. Teknik Mengulang
Membaca sepotong atau sebagian ayat sekurang-kurangnya lima kali sebelum mulai menghafalnya
Membaca ayat yang telah dihafal berulang-ulang kali (10 atau lebih)
sebelum berpindah ke ayat seterusnya
Selepas menghafal setiap setengah halaman, harus diulang beberapa kali sebelum diteruskan bagian yang setengah halaman lagi
Sebelum menghafal bagian Al-Qur'an seterusnya, harus diulang bagian yang sebelumnya.
C. Teknik Menghafal Dengan Teman
Pilih seorang teman yang sama-sama berminat
Orang pertama membaca dan disimak oleh orang kedua
Orang kedua membaca dan disimak oleh orang pertarna
Saling menyebut ayat antara satu sama lain
E. Teknik Mendengar Kaset/CD
Pilih seorang qari yang baik bagi seluruh Alquran atau beberapa qari bagi surah-surah tertentu
Sebelum mulai menghafal, dengar bacaan ayat-ayat yang ingin dihafal beberapa kali
Amati cara, lagu dan tempat berhenti bacaan qari tersebut sehingga terpahat di pikiran
Mulai menghafal ayat-ayat tersebut dengan cara dan gaya qari tersebut
Sentiasa mendengar kaset/CD bacaan Alquran dan kurangi atau tinggalkan mendengerkan lagu-lagu kerana akan mengganggu penghafalan
F. Teknik Merekam
Rekam bacaan kita di dalam kaset dan dengarkan lagi untuk memastikan bacaan dan hafalan yang betul
Bagi kanak-kanak, rekam bacaan ibu-bapa atau guru kemudian diikuti oleh bacaan kanak-kanak tersebut
Minta kanak-kanak tersebut mendengar kembali rekaman tersebut beberapa kali hingga menghafalnya
G. Teknik Menulis
Tulis kembali surat yang telah dihafal. Kemudian cek lagi dengan mushaf.
Menulis setiap ayat pertama awal surat, atau setiap rubu', atau setiap juz, atau setiap surah dalam sehelai kertas.
MEMELIHARA HAFALAN
1. Jauhi maksiat mata, maksiat telinga dan maksiat hati
2. Banyak berdoa, terutama waktu mustajab doa seperti ketika berbuka puasa, ketika dalam perjalanan, selepas azan dan lain-lain lagi
3. Menetapkan kadar bacaan setiap hari, contohnya, selembar, setengah juz, 1 juz dan sebagainya
4. Membaca pada waktu pagi dan mengulangnya pada waktu malam
5. Jangan membaca ketika sedang bosan, marah atau ngantuk
6. Menulis setiap ayat yang mutasyabih
(sa/berbagaisumber)
http://eramuslim.com
Berikut adalah Fadhail Hifzhul Qur’an (Keutamaan menghafal Qur’an) yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya, agar kita lebih terangsang dan bergairah dalam berinteraksi dengan Al Qur’an khususnya menghafal. Fadhail Dunia
1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an, “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)
Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)
2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya
”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)
Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.
Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda,
“Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)
Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
4. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49)
5. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia”, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
6. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah
”Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)
Fadhail Akhirat
1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal
Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”"(HR. Muslim)
2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga
Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)
Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.
3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat
“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ?alaih)
4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)
Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)
5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan
Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)
6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur’an
Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)
7. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30)
Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur’an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa’at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do’anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam hadits yang dhaif. “Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an. Allahumma amin”
By .Ustadz kamal Arifin Al Hafidz
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."
Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"
sumber : File 1001 KisahTeladan by Heksa
Salah satu cara termudah bagi kita untuk bisa selalu berinteraksi dengan Al-Quran adalah dengan cara menghafalnya. Sebab dengan menghafal, paling tidak kita dituntut lebih banyak membacanya mulai pertama kali menghafal hingga terus menerus menjaga hafalan. Namun tentu saja aspek pemahaman dan pengamalannya tidak bisa dipisahkan dari aktifitas menghafal Al-Quran.
Menjadi hafizhoh (penghafal Al Qur’an), secara otomatis akan mendapatkan keberkahan dan keuntungan didunia dan diakhirat seolah-olah dia sedang menanam modal (investasi) yang nilainya berlipat-lipat untuknya, keluarganya dan generasinya. Mengapa demikian ? karena dengan menghafal, ia di tuntut untuk lebih banyak membaca dan dengan lebih banyak membaca, ia akan lebih dalam pemahamannya dan pada akhirnya, hatinya akan lebih tersentuh untuk mengamalkannya.
Berikut ini beberapa janji Allah SWT terhadap siapa pun yang menjadikan dirinya sahabat Al Qur’an, pembawa Al Qur’an di dunia dan akhirat.
Di Dunia
Mendapatkan kenikmatan yang tertinggi, karena itu orang lain boleh iri. “Tidak boleh iri kecuali pada 2 hal : orang yang diberi ilmu oleh Allah beberapa Al-Qur’an, lalu ia membacanya sepanjang siang dan malam.”(HR. Bukhori) Ia dikategorikan sebagai yang terbaik dalam generasinya, Hafalan akan membawa ketenangan dan keberkahan sehingga hidupnya terasa indah. “Sesungguhnya orang yang tidak ada dalam dirinya hafalan Al Qur’an ibarat rumah rusak.” (HR Tirmidzi)
Muslimah hafizhoh dapat memberi bekal secara langsung pada anak-anaknya, bahkan sejak dalam kandungannya.
Di Akhirat
Ia akan mendapat syafaat dari Al Qur’an.
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi pembacannya” (HR. Muslim). Semakin banyak ia mengambil bagian dalam berinteraksi dengann Al-Qur’an, semakin tinggi derajatnya di surga.
Mendapat mahkota kemuliaan.
Kedua orang tuanya di beri pakaian terbaik yang lebih bagus dari dunia dan seisinnya. Rasul SAW menjelaskan, “Mereka akan di panggil mana orang-orang yang tidak lalai karena mengembala dari membaca kitabku ? Maka berdirilah mereka, lalu dipakaikan pada salah seorang dari mereka mahkota kemuliaan, Jika kedua orang tuannya muslim, maka keduannya di beri pakaian yang lebih bagus dari dunia dan isinnya". (HR. Thobrani).
Demikian keberuntungan dan masa depan hafizhoh di dunia dan di akhirat. Ia bagai orang yang berniaga dan selalu mendapat untung berlipat ganda, tak pernah rugi, inilah yang di gambarkan Allah SWT dalam firmannya QS 35 : 29 - 30, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan Sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan mereka pahala Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambahkan karunian-Nya, sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha Mensyukuri.” wallohu a’lam.
Penulis: Mufidah
alhikmah.com [16.02.2004]
Ketentuan Makki dan Ciri Khas Temanya
Setiap surah yang didalamnya mengandung "sajdah" maka surah itu Makki.
Setiap surah yang mengandung lafal kalla , berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur'an. Dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah.
Setiap surah yang mengandung ya ayyuhan nas dan tidak mengandung ya ayyuhal lazina amanu, berarti Makki, kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat ya ayyuhal lazina amanu-rka u wasjudu.Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.
Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah Baqarah.
Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dan lain-lainnya, adalah Makki, kecuali surah Baqarah dan Ali 'Imran. Sedang surah Ra'd masih diperselisihkan.
Ini adalah dari segi ketentuan, sedang dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut:
Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah , kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan buat Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah; seperti surah-surah yang pendek-pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.
Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya
Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (saksi) adalah Madani.
Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surah al-'Ankabut adalah Makki.
Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli Kitab adalah Madani.
Ini dari segi ketentuan, sedang dari segi cirri khas tema dan gaya bahasa dapatlah diringkaskan sebagai berikut:
Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.
Menyingkap perilaku orang munafig, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan behwa ia berbahaya bagi agama.
Suku kata dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.
sumber: Mabaahits fii uluumil Quran, Manna' Khalil al-Qahtan.
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia






